Refleksi Hari Perempuan Internasional di Maluku Utara: Mengurai Paradoks Emansipasi dan Konservatisme

- Wartawan

Senin, 10 Maret 2025 - 19:26 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ternate–HabarIndonesia. Peringatan International Women’s Day di Maluku Utara menjadi ajang refleksi mendalam bagi mahasiswa dan aktivis perempuan yang peduli terhadap isu kesetaraan gender.

Samurai Maluku Utara bersama DPD IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Maluku Utara menggelar Diskusi Panel Refleksi International Women’s Day dengan tema “Gerakan Sosial Perempuan: Ambigu Emansipasi & Konservatif”.

Acara yang berlangsung di Gedung NBCL, depan Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) B, pada Senin, 10 Maret 2025, ini menghadirkan dua pemateri utama, Wida dan Fitriyani Ashar, yang membahas tantangan sosial, politik, dan budaya yang masih membatasi perempuan.

Tubuh Perempuan dalam Cengkeraman Norma Sosial

Wida, dalam sesi pertama, mengangkat topik “Perempuan, Tubuh, dan Perlawanan”. Ia menyoroti bagaimana perempuan masih belum sepenuhnya memahami tubuh mereka sendiri akibat konstruksi sosial yang menjauhkan mereka dari kesadaran akan tubuh dan seksualitasnya.

“Kalau berbicara tentang tubuh biologis, tentu saya rasa kebanyakan perempuan masih belum mengerti tentang ketubuhannya,” ungkap Wida.

Ia menjelaskan bahwa sistem patriarki telah membentuk norma yang mengontrol tubuh perempuan, baik dalam ruang publik maupun privat. Konsekuensinya, perempuan sering kali tidak memiliki pemahaman mendalam tentang hak mereka atas seksualitas dan otonomi tubuh.

“Ada dua hal yang menjadi menarik untuk dikaji. Pertama, tubuh perempuan selalu dikaitkan dengan seksualitas. Namun, di saat yang sama, perempuan justru belum benar-benar mendapatkan hak yang seharusnya diberikan kepada mereka,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti bagaimana standar kecantikan yang diciptakan industri media dan fashion semakin mempersempit ruang ekspresi perempuan.

“Tubuh perempuan sering kali diukur berdasarkan standar kecantikan yang sangat didominasi oleh media dan industri fashion. Ini semakin memperparah tekanan sosial terhadap perempuan,” tambahnya.

Tingginya Kasus Kekerasan terhadap Perempuan

Pada sesi kedua, Fitriyani Ashar membahas realitas suram kasus kekerasan seksual di Indonesia, khususnya di Maluku Utara.

Berdasarkan data Komnas Perempuan, jumlah pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2024–2025, tercatat 330.097 kasus, mengalami kenaikan 14,17% dari tahun sebelumnya.

Bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan adalah:

Kekerasan Seksual: 26,94%

Kekerasan Psikis: 26,94%

Kekerasan Fisik: 26,78%

Kekerasan Ekonomi: 9,84%


Di Maluku Utara sendiri, sejak Januari hingga November 2024, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) mencatat 384 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kota Ternate menjadi wilayah dengan angka kekerasan tertinggi, disusul oleh Kabupaten Kepulauan Sula.

Data dari SIMFONI-PPA menunjukkan bahwa pada periode 1 Januari – 9 Maret 2025, tercatat 22 kasus kekerasan di Maluku Utara, dengan rincian:

12 kasus di Halmahera Utara

1 kasus di Halmahera Timur

1 kasus di Halmahera Selatan

2 kasus di Kepulauan Sula

3 kasus di Kota Ternate

1 kasus di Kota Tidore Kepulauan

Menurut Fitriyani, tingginya angka kekerasan ini menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi ancaman besar, bahkan dalam ruang domestik yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka.

“Kekerasan di ranah personal masih mendominasi laporan kasus kekerasan berbasis gender, mencapai 99% dari total kasus. Ini membuktikan bahwa perempuan masih menghadapi ancaman besar,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya perbaikan mekanisme pelaporan dan perlindungan bagi korban agar mereka dapat memperoleh keadilan.

Refleksi dan Langkah Ke Depan

Diskusi panel ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi perjuangan perempuan dalam mendapatkan hak-haknya.

Kolaborasi antara Samurai Maluku Utara dan DPD IMM Maluku Utara diharapkan dapat memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya gerakan sosial perempuan dalam menghadapi tantangan yang masih membayangi mereka.

(Opal/Apot)

Berita Terkait

Ajukan Proyek Infrastruktur Strategis, Sherly Minta Dukungan Anggaran Rp2,6 Triliun dari AHY
BPC HIPMI Kabupaten/Kota Peringatan BPP, Jangan Libatkan Aktor Lama di Musdalub
Maluku Utara Jadi Sorotan Dunia, Proyek CDCSUI Fokus Jaga Keaslian Cengkih dan Pala
Dinas Perpustakaan Ternate Genjot Literasi 2026, Festival Literasi Siap Digelar
Sarbin Sehe Resmi Berangkatkan ERB 2026, Rupiah Layak Edar Hadir di Lima Pulau Terpencil
Wabup Haltim Perkuat Sinergi dengan BPVP Lombok Timur untuk Ciptakan SDM Berdaya Saing
Sultan Tidore, Semua Akan Kembali, Mari Doakan Burhan Abdurahman Husnul Khatimah
Langkah Strategis Sherly di Jakarta, Percepat Realisasi Program Infrastruktur Maluku Utara

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 12:14 WIT

Permenhut 8/2026 Disosialisasikan di Ternate, RKTN Jadi Arah Perencanaan Kehutanan Daerah

Selasa, 15 September 2026 - 21:40 WIT

Wamen Ossy, Kementerian ATR/BPN Hormati Proses Hukum dan Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan

Senin, 14 September 2026 - 16:36 WIT

Koperasi TKBM Ternate Tegaskan Legalitas Lahan Akehuda, Sengketa Masuk Tahap Penyidikan

Senin, 14 September 2026 - 00:37 WIT

Masyarakat Manfaatkan Waktu Akhir Pekan untuk Mengurus Keperluan Pertanahan dengan PELATARAN

Senin, 14 September 2026 - 00:18 WIT

15 Tahun Mengabdi di NHM, Septian Sam Tuntut Pesangon Rp1,8 Miliar Kini Mala Ditahan

Minggu, 13 September 2026 - 10:38 WIT

Sinergi Tiga Pilar Jadi Kunci Percepatan Peralihan Hak Terintegrasi 10 Hari

Minggu, 13 September 2026 - 10:12 WIT

Empat Bidang Tanah Diukur BPN di Akehuda Dikawal Polisi, Warga Minta Dokumen Diperiksa Terbuka

Jumat, 11 September 2026 - 20:09 WIT

Kejari Halbar Diminta Kawal Proyek Revitalisasi Sekolah agar Sesuai Mekanisme Swakelola

Berita Terbaru