Berita  

Pemprov Malut dan BI Perkuat UMKM, Modal Murah hingga Sertifikasi Ekspor Disiapkan

TERNATE – HabarIndonesia.id – Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara resmi membuka kegiatan Serangkaian Kurasi UMKM dan Wirausaha Unggulan BI (SERUMBI) 2026 di Aula Maitara Kantor Perwakilan BI Maluku Utara, Senin (11/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, hingga 13 Mei 2026, menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas, daya saing, serta memperluas akses pasar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Maluku Utara.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Malut, Sri Haryanti Hatari.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Maluku Utara Handi Susila, Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Maluku Utara, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Maluku Utara Wa Zahariah, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Maluku Utara, OPD Kota Ternate, perwakilan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, pimpinan perbankan, Ketua LP3H IAI As-Siddiq Kie Raha Maluku Utara, serta para pelaku UMKM dari berbagai daerah di Maluku Utara.

Kepala Perwakilan BI Maluku Utara, Handi Susila, dalam sambutannya menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk terus menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi Maluku Utara dalam mendorong UMKM agar naik kelas dan memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Menurutnya, tantangan geografis Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan harus dijawab melalui digitalisasi agar pelaku UMKM dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Selain itu, BI juga mendorong pengembangan produk unggulan daerah, salah satunya kopi rempah yang dinilai memiliki identitas kuat sebagai ciri khas Ternate dan Maluku Utara.

“Kenapa kita tidak mencoba dengan kopi rempah? Ini sudah jadi ciri khas Ternate dan Maluku Utara. Di mana-mana kalau mau bahas sesuatu, ayo kita ngopi dulu,” ujar Handi.

Ia juga menyampaikan bahwa BI terus menjemput potensi sektor wastra dan batik Maluku Utara agar dapat memperoleh akses pasar nasional maupun internasional.

Sementara itu, Asisten II Setda Maluku Utara, Sri Haryanti Hatari, menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia yang selama ini terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi dalam membina dan memperkuat sektor UMKM.

Menurut Sri Haryanti, SERUMBI 2026 merupakan langkah nyata untuk memastikan UMKM tidak hanya mendapatkan pembinaan, tetapi juga difasilitasi agar mampu menembus pasar nasional.

“SERUMBI 2026 adalah langkah nyata BI dan Pemprov untuk mendorong UMKM tidak hanya dibina, tapi juga difasilitasi sampai ke pasar nasional,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Sri Haryanti memaparkan tiga fokus utama SERUMBI 2026.

Pertama, perluasan akses digital melalui transformasi digital UMKM. Pelaku usaha didorong untuk tidak hanya mengandalkan penjualan secara langsung, tetapi juga memanfaatkan marketplace dan media sosial.

Kedua, penguatan akses pembiayaan. Atas arahan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, Pemerintah Provinsi menyalurkan bantuan modal usaha sebesar Rp3 juta hingga Rp15 juta dengan bunga 0,01 persen bagi UMKM riil di Sofifi dan Ternate. Perbankan juga diminta memberikan pendampingan secara intensif.

Ketiga, pengembangan potensi ekspor. Pemerintah Provinsi memfasilitasi standardisasi dan sertifikasi produk unggulan seperti kopi rempah, hasil laut, dan kerajinan agar mampu menembus pasar ekspor dengan label “Made in Maluku Utara”.

“Jangan sampai ikan kita ditangkap di Malut, dikemas di Surabaya, dijual ke Jepang dengan label ‘Made in Jawa’,” katanya.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Maluku Utara, saat ini terdapat sekitar 195 ribu UMKM, dengan 95 persen di antaranya merupakan usaha mikro yang menyerap 584.988 tenaga kerja.

Sri Haryanti juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada 2026 mencapai 19,64 persen, tertinggi secara nasional.

Namun menurutnya, pertumbuhan tersebut masih didominasi sektor pertambangan, sementara sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan baru berkontribusi sekitar 3 persen.

“Tambang ada masanya dan akan habis. Kalau sektor itu hilang, maka titik pertumbuhan ekonomi ada di bapak ibu pelaku UMKM. Selama masih menghasilkan produk berkualitas, UMKM tidak akan hilang,” tegasnya.

Di akhir sambutan kata Sri Haryanti, Pemerintah Provinsi Maluku Utara berpesan kepada para pelaku UMKM untuk menjaga konsistensi rasa dengan mendokumentasikan resep, terus meningkatkan kualitas kemasan, serta memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran.

“Digitalisasi sekarang bukan pilihan, tapi keharusan,” pungkasnya.

(Gus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *