Seleksi Paskibraka Morotai Disorot, Peserta Lolos Seluruh Tahapan Justru Dicoret pada Rapat Akhir

MOROTAI – HabarIndonesia.id – Proses seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Pulau Morotai yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) menuai sorotan. Rabu, 01/07/26.

Seorang peserta asal Desa Gotalamo, Kecamatan Morotai Selatan, berinisial Bunga, diduga dicoret pada rapat akhir penentuan kelulusan meski disebut telah memenuhi seluruh indikator penilaian yang ditetapkan tim seleksi.

Kekecewaan disampaikan pihak keluarga setelah nama Bunga, siswi SMA Negeri 1 Pulau Morotai, tidak tercantum dalam daftar peserta yang dinyatakan lulus.

Padahal, menurut Hardiyanti kaka Bunga, Bunga telah mengikuti seluruh rangkaian pembinaan dan seleksi selama kurang lebih dua bulan.

Ia menjelaskan, selama proses seleksi adiknya hanya tiga kali tidak mengikuti latihan karena menjalani pengobatan di Sofifi.

Ketidakhadiran tersebut, kata dia, telah disertai surat izin resmi kepada panitia. Setelah dinyatakan pulih, Bunga kembali mengikuti seluruh tahapan latihan hingga selesai.

Menurutnya, beberapa waktu sebelum pengumuman resmi, salah seorang pelatih bahkan sempat menyampaikan bahwa nama Bunga masuk dalam daftar peserta yang diproyeksikan lolos. Setelah seluruh tahapan seleksi berakhir, pelatih kembali meyakinkan bahwa posisi Bunga dinilai aman.

Namun lanjut dia, hasil akhir justru berbeda. Keluarga mempertanyakan keputusan tersebut karena terdapat peserta lain yang, menurut pengakuan Bunga, lebih jarang mengikuti latihan dan memiliki tinggi badan lebih rendah, tetapi tetap dinyatakan lulus.

“Adik saya memang sempat sakit dan hanya tiga kali izin latihan untuk berobat. Setelah itu dia sudah sehat dan kembali mengikuti semua kegiatan. Karena itu kami sangat kaget ketika hasil diumumkan, ternyata namanya tidak ada. Saya tidak memaksakan adik saya harus diloloskan, tetapi kami meminta adanya transparansi agar ke depan tidak ada lagi kejanggalan seperti ini,” ujar Hardiyanti kakak Bunga kepada wartawan, Selasa (30/6/2026).

Informasi yang dihimpun oleh media habarindonesia.id, terhadap proses seleksi semakin menguat setelah salah seorang anggota tim seleksi bernama Laduni memberikan tanggapan melalui unggahan di grup Facebook Info Morotai.

Dalam unggahan tersebut, Laduni mengakui bahwa Bunga memenuhi hampir seluruh aspek penilaian, mulai dari fisik, proporsi wajah, Peraturan Baris-Berbaris (PBB), hingga Tes Inteligensia Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

Namun, menurut pengakuannya, pada rapat akhir penentuan kelulusan dirinya menjadi pihak yang memberatkan kelulusan Bunga dengan alasan kondisi kesehatan peserta saat mengikuti proses seleksi.

“Memang yang bersangkutan secara fisik bagus, wajah juga masuk, PBB juga masuk, dan TIU-TWK juga lulus. Anak ibu juga sudah masuk daftar calon Paskibraka Kabupaten Pulau Morotai. Namun pada saat rapat akhir penentuan hasil kelulusan, saya sendiri yang memberatkan anak ibu untuk lolos dengan alasan saat melaksanakan seleksi datang dengan kondisi tubuh yang kurang fit alias kurang sehat,” tulis Laduni dalam unggahannya.

Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan dari keluarga maupun masyarakat mengenai dasar pertimbangan tim seleksi dalam rapat akhir.

Pasalnya lanjut kaka Bunga, kondisi kesehatan yang telah pulih disebut menjadi alasan peserta tidak diluluskan, meski aspek administrasi, fisik, dan akademik dinyatakan memenuhi syarat.

Sementara itu, upaya konfirmasi awak media kepada anggota tim seleksi, Ira, belum menghasilkan penjelasan rinci.

Saat dihubungi melalui pesan WhatsApp pada Selasa (30/6/2026), Ira menyatakan tidak memiliki kewenangan memberikan keterangan kepada media.

“Mohon maaf pak, izin menyampaikan terkait hal ini kami tidak punya hak untuk mengonfirmasi karena kami punya pimpinan. Silakan dikonfirmasi ke pimpinan kami,” tulis Ira.

Di sisi lain, Kepala Kesbangpol Kabupaten Pulau Morotai selaku penanggung jawab penyelenggaraan seleksi hingga berita ini diterbitkan belum memberikan keterangan resmi.

Wartawan telah mendatangi Kantor Kesbangpol untuk meminta konfirmasi, namun yang bersangkutan tidak berada di tempat.

Upaya konfirmasi akan terus dilakukan guna memperoleh penjelasan resmi dan memenuhi prinsip keberimbangan pemberitaan.

Kasus ini memicu desakan dari keluarga Bunga agar Kesbangpol Pulau Morotai membuka secara transparan hasil penilaian seluruh peserta, termasuk dasar pertimbangan yang digunakan dalam rapat akhir penentuan kelulusan.

Menurut Hardiyanti, transparansi dinilai penting untuk menjawab dugaan adanya perlakuan tidak objektif sekaligus menjaga kredibilitas proses seleksi Paskibraka yang seharusnya dilaksanakan secara profesional, akuntabel, dan berkeadilan.

(Sufandy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *