BI Malut Ajak Warga Tanam Rica dan Kangkung untuk Kendalikan Inflasi Daerah

TERNATE, HabarIndonesia.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Maluku Utara menutup rangkaian Program Unggulan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) 2026 bertajuk “Maluku Utara Bangkit Jaga Inflasi” melalui kegiatan RINDANG BERSERI di Kecamatan Ternate Tengah, Kamis (14/8/2026).

RINDANG BERSERI merupakan singkatan dari “Rica dan Kangkung dalam Kampung Berkualitas dan Asri”, sebuah gerakan yang mendorong pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber pangan mandiri sekaligus bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BI Perwakilan Maluku Utara Handi Susila, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Ternate Hj. Marliza Tauhid Soleman, Camat Ternate Tengah Fahmi Basa Amin, Ketua Bidang 3 dan 4 TP PKK Kota Ternate, para lurah se-Kecamatan Ternate Tengah, tokoh masyarakat, serta peserta kegiatan lainnya.

Dalam sambutannya, Handi Susila menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai rupiah tidak hanya berkaitan dengan nilai tukar, tetapi juga memastikan inflasi tetap rendah dan terkendali.

Stabilitas inflasi dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, dan dinamika distribusi pangan, pengendalian inflasi membutuhkan pendekatan komprehensif. Karena itu, BI terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan melalui TPIP dan TPID,” ujar Handi.

Ia menjelaskan, berdasarkan data Juli 2026, Kota Ternate sebagai kota Indeks Harga Konsumen (IHK) dengan bobot terbesar di Maluku Utara mencatat inflasi sebesar 4,35 persen secara tahunan (yoy).

Lanjutnya, angka tersebut berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi ±1 persen. Sementara inflasi kumulatif Kota Ternate tercatat mencapai 4,82 persen.

Menurutnya, tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok volatile food, antara lain ikan cakalang, tomat, cabai rawit, serta sejumlah komoditas pangan strategis lainnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi perlu dilakukan sejak dari hulu melalui penguatan ketersediaan dan ketahanan pangan.

Ia juga mengatakan, sejalan dengan arahan Gubernur Maluku Utara dalam High Level Meeting TPID, BI Maluku Utara kemudian menjalankan Program Unggulan 2026 “Maluku Utara Bangkit Jaga Inflasi” yang salah satunya diwujudkan melalui Program RINDANG BERSERI.

Lebih jauh kata dia, program tersebut merupakan bagian dari Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang mengacu pada kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.

“Gerakan menanam rica dan kangkung bukan sekadar penghijauan atau lomba antarwilayah. Ini adalah investasi sosial untuk membangun ketahanan pangan dari rumah tangga. Ketika masyarakat mampu memenuhi sebagian kebutuhan sendiri, ketergantungan pada pasokan luar berkurang dan gejolak harga lebih terkendali,” jelasnya.

Lanjutnya, dalam kerangka GPIPS 2026, pengendalian inflasi daerah diarahkan melalui tujuh program unggulan, yakni peningkatan produktivitas, penguatan ketahanan pangan, kerja sama antardaerah, fasilitasi distribusi pangan, pasar murah, penguatan neraca pangan, serta penguatan koordinasi dan komunikasi.

Ia juga menyampaikan, koordinasi kelembagaan juga dilakukan melalui forum diseminasi dan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan mandiri.

Lebih jauh kata dia, BI Maluku Utara turut memberikan apresiasi kepada TP PKK Kota Ternate yang menjadi penggerak utama pelaksanaan RINDANG BERSERI di tujuh kecamatan.

Rangkaian kegiatan dimulai pada 7 Agustus 2026 di Kecamatan Ternate Utara, kemudian berlanjut ke Ternate Selatan, Ternate Pulau, Ternate Barat, Pulau Moti, Pulau Hiri, dan ditutup di Ternate Tengah.

Secara keseluruhan, sekitar 700 paket suvenir bibit telah didistribusikan dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Paket itu terdiri atas bibit cabai, aneka sayuran, serta berbagai peralatan pendukung untuk mendorong masyarakat memulai budidaya pangan secara mandiri.

“Keberhasilan RINDANG BERSERI tidak diukur dari berapa banyak bibit yang dibagikan, tetapi seberapa banyak pekarangan menjadi produktif, berapa keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, dan seberapa besar kontribusinya menjaga inflasi tetap terkendali,” tegas Handi.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian inflasi membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, BI, TPID, TP PKK, dan masyarakat.

Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci agar gerakan ketahanan pangan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan dampak nyata dan berkelanjutan.

“Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Namun jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama,” ujarnya.

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman tomat dan rica secara simbolis oleh Ketua TP PKK Kota Ternate Hj. Marliza Tauhid Soleman, Camat Ternate Tengah Fahmi Basa Amin, dan Kepala BI Perwakilan Maluku Utara Handi Susila.

Menutup kegiatan, BI Maluku Utara mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan RINDANG BERSERI sebagai gerakan berkelanjutan.

Gerakan tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan mulai dari tingkat rumah tangga, menjaga stabilitas harga komoditas pangan, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pengendalian inflasi di Provinsi Maluku Utara.

(Agis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *