HALUT, HabarIndonesia.id – Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Petani Hortikultura Halmahera Utara (Halut) melakukan aksi pemblokiran Jalan Poros Galela-Loloda, tepatnya di Desa Ngidiho, Kecamatan Galela Barat, Rabu (13/8/2026).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap dugaan ketidakmerataan pembagian alat produksi pertanian oleh Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Utara.
Massa menilai Kecamatan Galela belum mendapatkan bantuan alat produksi pertanian berupa hand tractor atau jonder, meski kebutuhan alat tersebut sangat diperlukan para petani hortikultura.
Akibat aksi pemblokiran tersebut, aktivitas masyarakat terganggu. Kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas dari arah Galela menuju Tobelo maupun sebaliknya sempat terhenti akibat akses jalan utama tersebut ditutup massa aksi.
Koordinator Lapangan Aliansi Petani Hortikultura Halmahera Utara, Arifin Biramasi, mengatakan massa mendesak Dinas Pertanian Halmahera Utara segera menyediakan sedikitnya satu unit alat produksi pertanian berupa hand tractor atau jonder untuk membantu para petani di Kecamatan Galela.
Menurut Arifin, pembagian bantuan alat produksi pertanian pada 2025 dan 2026 dinilai tidak merata di empat kecamatan.
Ia bahkan menduga terdapat praktik nepotisme dalam penyaluran bantuan alat pertanian yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Halmahera Utara.
“Galela sampai saat ini tidak pernah mendapatkan bantuan alat produksi berupa jonder. Sementara ada kecamatan yang kembali menerima alat yang sama tahun ini, padahal sebelumnya sudah pernah mendapatkan bantuan hand tractor dari Pemerintah Halmahera Utara,” ujar Arifin.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut semakin menyulitkan petani karena saat ini wilayah Galela tengah menghadapi musim kemarau.
Menurutnya, ketidaktersediaan alat produksi pertanian turut memperburuk kondisi petani hortikultura yang selama ini mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan.
“Petani hortikultura merasa dirugikan dengan dugaan kebijakan yang tidak merata di lingkungan Dinas Pertanian,” katanya.
Arifin juga mengungkapkan bahwa sejumlah petani hortikultura di Kecamatan Galela kini mengalami gagal panen.
Lanjutnya, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor cuaca dan musim kemarau, tetapi juga dinilai berkaitan dengan minimnya perhatian pemerintah daerah dalam menyediakan sarana dan alat produksi yang dibutuhkan petani.
Di tengah berlangsungnya aksi, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Halmahera Utara, Muhamad Kacoa, hadir mewakili Pemerintah Daerah untuk menemui massa.
Ia kemudian berdialog langsung dengan para petani guna mendengar tuntutan yang disampaikan.
Dalam dialog tersebut, Muhamad Kacoa menyampaikan bahwa Kepala Dinas Pertanian Halmahera Utara akan diminta bertemu langsung dengan para petani untuk membahas tuntutan mereka.
“Pada Jumat besok, Kepala Dinas Pertanian harus bertemu dengan petani untuk melakukan audiensi di Kantor Dinas Pertanian Halmahera Utara. Audiensi itu akan membahas lebih lanjut terkait tuntutan dan keinginan Aliansi Petani Hortikultura Halmahera Utara,” jelas Muhamad Kacoa.
Dari i formasi yang di himpun media Habar Infonesia.id, setelah massa aksi mendapatkan kepastian mengenai rencana audiensi tersebut, massa kemudian membubarkan diri dengan tertib.
Akses Jalan Poros Galela-Loloda kembali dibuka sehingga aktivitas masyarakat dan kendaraan dapat kembali berjalan normal.
Meski demikian, Arifin menegaskan bahwa pihaknya akan kembali melakukan aksi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan petani tidak segera mendapatkan solusi konkret dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara.
“Kami berharap tuntutan kami bisa terealisasi sesuai dengan keinginan kami. Kalau tidak ada tindakan atau solusi yang dilakukan oleh Pemerintah Halmahera Utara, kami akan turun dengan jumlah yang lebih besar. Maka jangan salahkan kami kalau jalan utama menuju Tobelo kami tutup sebagai bentuk perlawanan,” pungkasnya.
(Ahmad)














