Saloi Halmahera Angkat Isu Fast Fashion Lewat Pemutaran Film dan Diskusi

Komunitas Saloi Halmahera mengajak masyarakat Ternate memahami dampak budaya fast fashion terhadap lingkungan melalui pemutaran film dokumenter Menolak Punah dan diskusi tentang pola konsumsi pakaian yang lebih berkelanjutan.

Suasana pemutaran film dokumenter Menolak Punah dan diskusi yang diselenggarakan Saloi Halmahera di Caffe Sua, Kota Ternate, Minggu (26/7/2026). Dok. Djul Fikram

TERNATE, HabarIndonesia.id – Komunitas Saloi Halmahera menggelar pemutaran film dokumenter Menolak Punah yang dilanjutkan dengan diskusi di Caffe Sua, kawasan Benteng Oranje, Kota Ternate, Minggu (26/7/2026) malam. Kegiatan tersebut bertujuan mengajak masyarakat memahami dampak budaya fast fashion terhadap lingkungan sekaligus mendorong perubahan pola konsumsi pakaian yang lebih bertanggung jawab.

Melalui kegiatan bertajuk nonton bareng (nobar) dan diskusi ini, peserta diajak menelusuri perjalanan sehelai pakaian, mulai dari proses produksi, distribusi, penggunaan, hingga berakhir sebagai limbah. Diskusi tersebut menjadi ruang refleksi mengenai keterkaitan antara kebiasaan konsumsi pakaian dengan persoalan lingkungan yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Film Menolak Punah merupakan karya jurnalis dokumenter Dandhy Dwi Laksono dan Aji Yahuti. Dokumenter tersebut diproduksi melalui kolaborasi Koperasi Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang.

Film ini mengangkat berbagai persoalan yang jarang disadari publik, seperti ketergantungan Indonesia terhadap kapas impor, tekanan yang dihadapi industri tekstil nasional, serta meningkatnya limbah fesyen akibat budaya fast fashion. Dokumenter tersebut juga menampilkan sejumlah komunitas yang berupaya mempertahankan praktik berpakaian yang lebih berkelanjutan di tengah derasnya arus konsumsi.

Direktur Saloi Halmahera, Djul Fikram, mengatakan pemutaran film itu merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang diskusi mengenai isu lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Ketika berbicara tentang lingkungan, perhatian kita sering tertuju pada hutan, tambang, atau laut. Padahal pakaian yang kita gunakan setiap hari juga memiliki jejak ekologis yang panjang. Melalui film ini kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa setiap pilihan konsumsi memiliki dampak terhadap lingkungan,” kata Djul.

Film tersebut memperlihatkan bagaimana budaya fast fashion mendorong masyarakat membeli pakaian dalam jumlah lebih banyak dengan usia pakai yang semakin singkat. Kondisi itu memicu peningkatan limbah tekstil, sementara sebagian besar pakaian diproduksi menggunakan serat sintetis yang berpotensi melepaskan mikroplastik ke lingkungan.

Salah satu kisah yang diangkat dalam film adalah pengalaman komunitas “Bersi Bersi Lemari” di Jakarta yang menerima donasi pakaian bekas dalam jumlah besar. Ironisnya, sebagian pakaian yang diterima masih memiliki label harga dan belum pernah digunakan, tetapi sudah berakhir sebagai barang buangan.

Menurut Djul, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan limbah, tetapi juga menyangkut pola konsumsi masyarakat yang terus didorong oleh perubahan tren fesyen dan kemudahan berbelanja secara daring.

“Fast fashion membuat kita terbiasa membeli pakaian tanpa benar-benar membutuhkannya. Semakin tinggi konsumsi, semakin besar pula sumber daya yang digunakan dan limbah yang dihasilkan. Karena itu, perubahan harus dimulai dari cara kita memandang pakaian, bukan hanya sebagai produk mode, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap lingkungan,” ujarnya.

Meski Maluku Utara belum memiliki industri tekstil berskala besar, Djul menilai isu yang diangkat dalam film tersebut tetap relevan. Sebagai daerah yang menjadi konsumen berbagai produk sandang dari luar, masyarakat Maluku Utara tetap menjadi bagian dari rantai konsumsi yang berdampak terhadap lingkungan.

Karena itu, Saloi Halmahera berharap kegiatan serupa dapat mendorong lahirnya kesadaran untuk mengurangi konsumsi berlebihan, memperpanjang usia pakai pakaian, serta membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Kami berharap diskusi ini tidak berhenti ketika film selesai diputar. Kesadaran bisa dimulai dari hal yang paling sederhana, seperti membeli pakaian sesuai kebutuhan, menggunakan kembali yang masih layak, dan tidak mudah membuangnya hanya karena tren berubah. Langkah-langkah kecil seperti itu akan memberi dampak besar jika dilakukan bersama,” tutur Djul.

Melalui pemutaran Menolak Punah dan diskusi yang menyertainya, Saloi Halmahera ingin menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk bencana atau kerusakan alam yang kasatmata. Isu tersebut juga melekat pada kebiasaan sehari-hari, termasuk cara masyarakat membeli, memakai, dan memperlakukan pakaian.

Bagi Saloi Halmahera, membangun kesadaran ekologis dapat dimulai dari ruang-ruang diskusi yang sederhana. Sebab, perubahan perilaku berawal dari perubahan cara pandang.

(Riff)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *