TWG 2 CDC-SUI Digelar di Ternate, Malut Fokus Selamatkan Kekayaan Genetik Pala dan Cengkeh

- Wartawan

Selasa, 22 September 2026 - 01:50 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Bersama Pertemuan Technical Working Group (TWG) 2 Program CDC-SUI di Halmahera Room Bela Hotel Ternate. Senin, (21/09/26). Dok. Humas ADPIM

Foto Bersama Pertemuan Technical Working Group (TWG) 2 Program CDC-SUI di Halmahera Room Bela Hotel Ternate. Senin, (21/09/26). Dok. Humas ADPIM

TERNATE, HabarIndonesia.id — Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, H. Samsuddin Abdul Kadir, mewakili Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, membuka secara resmi Pertemuan Technical Working Group (TWG) 2 Program CDC-SUI di Halmahera Room Bela Hotel Ternate, Senin (21/9/2026).

Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan FAO Regional Asia Pasifik, FAO Indonesia dan Timor Leste, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI yang diwakili oleh Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku Utara, Warsita, pimpinan OPD Provinsi Maluku Utara, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutan Gubernur yang dibacakan oleh Sekda, Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian RI dan FAO yang telah memberikan perhatian serta dukungan terhadap upaya konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman tanaman pangan dan pertanian di Maluku Utara.

“Pertemuan ini memiliki arti yang sangat penting. Yang sedang kita bicarakan bukan sekadar persoalan komoditas, bukan semata-mata persoalan produksi, melainkan menyangkut masa depan sumber daya genetik, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan petani, dan warisan pengetahuan masyarakat untuk generasi mendatang,” ujar Sekda.

Sekda menjelaskan bahwa Maluku Utara memiliki posisi istimewa dalam sejarah dunia. Bangsa-bangsa Eropa datang ke wilayah ini karena daya tarik cengkeh dan pala yang menjadi primadona perdagangan dunia.

Bahkan, menurutnya, penemuan Maluku Utara oleh bangsa Eropa menjadi titik awal pembuktian bahwa bumi itu bulat ketika pelaut Spanyol yang tiba di Tidore bertemu dengan Portugis yang sudah ada di Ternate.

“Ketika kita berbicara tentang konservasi pala dan cengkeh di Maluku Utara, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang warisan alam, warisan budaya, sejarah perdagangan dunia, dan identitas Maluku Utara,” tegasnya.

Ia juga mengaitkan pentingnya konservasi dengan tantangan global saat ini, seperti program Carbon Trading di Norwegia yang memberikan penghargaan kepada negara-negara yang menjaga hutannya.

Menurutnya, hal ini menjadi peluang bagi Maluku Utara sebagai provinsi dengan kekayaan hutan dan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku Utara, Warsita, yang mewakili Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI, dalam sambutannya menjelaskan bahwa sumber daya genetik tanaman merupakan aset strategis bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.

Program CDC-SUI atau Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia hadir sebagai kerja sama Kementerian Pertanian dan FAO yang didukung oleh Global Environment Facility (GEF).

Program ini dilaksanakan di tiga provinsi dan delapan kabupaten, meliputi Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, dan Maluku Utara, dengan fokus pada lima komoditas utama, yakni padi, talas, uwi, pala, dan cengkeh.

“Maluku Utara memiliki peran yang begitu penting. Daerah ini memiliki sejarah panjang dalam perdagangan rempah, khususnya pala dan cengkeh, serta menjadi pusat penting keanekaragaman genetik atau center of origin bagi kedua komoditas tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil identifikasi di beberapa kawasan, seperti Gunung Sibela Halmahera Selatan, menunjukkan masih banyak terdapat kerabat liar atau wild relative dari pala dan cengkeh. Kekayaan ini adalah bank genetik abadi yang perlu dikonservasi.

Di Tidore Kepulauan, lebih dari 85 persen masyarakat memiliki tanaman pala dan/atau cengkeh dengan luas budidaya pala mencapai 5.868,8 hektare dan cengkeh 891,4 hektare.

Namun, kata dia, sebagian besar tanaman telah berumur lebih dari 25 tahun dan masih dijual dalam bentuk biji pala serta cengkeh kering sehingga nilai tambah di tingkat petani masih sangat terbatas.

Sementara itu, di Halmahera Selatan, lokasi penting seperti Bacan, Makian, Kayoa, Mandioli, Gunung Sibela, Desa Gandasuli, dan Desa Marabose menjadi fokus kegiatan konservasi, karakterisasi, penguatan Custodian Farmer, hingga akses diversifikasi pasar.

“Kami menargetkan lahirnya lebih dari 50 Custodian Farmers atau petani pelestari di Maluku Utara yang akan mendapatkan pengakuan formal serta paket insentif nyata, seperti alat pertanian, pupuk organik, bibit unggul, hingga solar dryer. Insentif ini disusun berdasarkan Farm Conservation Plan yang diformulasikan oleh petani itu sendiri,” jelasnya.

Melalui intervensi mutu pascapanen tersebut, pendapatan petani diproyeksikan dapat meningkat sekitar 15 hingga 25 persen dengan target penerima manfaat langsung sekitar 5.110 orang dan 50 persen di antaranya adalah perempuan.

Ia menegaskan, keberadaan forum Technical Working Group ini sangat krusial untuk merumuskan harmonisasi kebijakan lintas sektoral antara kawasan hutan, kebun rakyat, dan tanah adat sebagai wujud nyata sinergi pemerintah, mitra internasional, dan masyarakat dalam menjaga warisan sumber daya genetik bersama.

(Gus)

Berita Terkait

Potensi Sagu Wailukum Dikembangkan, PT Position Serahkan Fasilitas Produksi Lengkap
BI Malut Ajak Warga Tanam Rica dan Kangkung untuk Kendalikan Inflasi Daerah
Merasa Dianaktirikan, Petani Galela Blokade Jalan Galela-Loloda Tuntut Bantuan Jonder
Forum Serikat Petani Halut Tuntut Harga Kelapa Rp3.000, Minta Diatur dalam Perda Hilirisasi
Kodim 1509/Labuha Targetkan Tanam 100 Ribu Pohon Sukun di Halsel
Petani Halsel Desak Usut Dugaan Distribusi Tomat dan Cabai dari Manado
Bupati Haltim Kunjungi Kementerian Pertanian, Usulkan Pembangunan Pabrik Kelapa dan Bantuan Bibit
Kebun Hortikultura Jadi Ruang Kemandirian Perempuan di Pulau Obi

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 19:06 WIT

Material Proyek Jalan Jikohai Diduga dari Galian C Tak Berizin, APH Diminta Periksa Semua Pihak

Selasa, 22 September 2026 - 01:30 WIT

Pelta Malut Soroti Perbedaan Keterangan kuasa Hukum PT NHM dan Kapolres Halut, dalam Kasus Septian Sam

Senin, 21 September 2026 - 20:29 WIT

77 Jam Kerja per Pekan dan Kecelakaan Berujung Amputasi, PT Cahaya Bintang Diadukan ke Disnaker

Kamis, 17 September 2026 - 19:53 WIT

OJK Malut, Zahra Berkah Belum Berizin, Status Investasi Ilegal Masih Didalami

Kamis, 17 September 2026 - 12:14 WIT

Permenhut 8/2026 Disosialisasikan di Ternate, RKTN Jadi Arah Perencanaan Kehutanan Daerah

Selasa, 15 September 2026 - 21:40 WIT

Wamen Ossy, Kementerian ATR/BPN Hormati Proses Hukum dan Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan

Senin, 14 September 2026 - 16:36 WIT

Koperasi TKBM Ternate Tegaskan Legalitas Lahan Akehuda, Sengketa Masuk Tahap Penyidikan

Senin, 14 September 2026 - 00:37 WIT

Masyarakat Manfaatkan Waktu Akhir Pekan untuk Mengurus Keperluan Pertanahan dengan PELATARAN

Berita Terbaru