Praktisi Hukum Soroti Laporan PT. MAI Terhadap 14 Warga Halteng

- Wartawan

Jumat, 13 Februari 2026 - 00:55 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TERBATE – HabarIndoneaia.id – Sebanyak 14 warga Sagea-Kiya, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, dilaporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku Utara oleh PT Mining Abadi Indonesia (MAI), Senin (09/02/2026).

Laporan tersebut merupakan tindak lanjut dari aksi pemboikotan aktivitas pertambangan pada 5 Februari 2026 yang dilakukan Koalisi Save Sagea-Kiya.

Aksi itu ditujukan terhadap kegiatan pertambangan PT Zong Hai Rare Metal Mining Indonesia yang berada di bawah pengelolaan PT MAI, yang oleh warga diduga beroperasi tanpa transparansi perizinan yang jelas.

Sehari setelah laporan dilayangkan, 14 warga menerima surat undangan klarifikasi dari Ditreskrimsus Polda Maluku Utara dengan nomor: B/208/II/RES.5/2026 pada Selasa (10/02/2026). Mereka diminta hadir untuk memberikan keterangan sebagai saksi pada Rabu (11/02/2026).

Langkah hukum yang ditempuh PT MAI tersebut langsung menuai sorotan publik, termasuk dari kalangan praktisi hukum di Maluku Utara.

Praktisi Hukum Maluku Utara, Rafiq Hafitzh, menilai aksi pemboikotan yang dilakukan warga merupakan respons atas tidak terpenuhinya tuntutan transparansi dokumen perizinan perusahaan.

Menurut Rafiq, dalam pertemuan antara warga dan pihak perusahaan yang berlangsung di Kantor Kecamatan Weda Utara pada Desember 2025, masyarakat telah meminta perusahaan menunjukkan dokumen legalitas operasionalnya. Namun, permintaan tersebut tidak dipenuhi.

“Perusahaan juga harus menjunjung tinggi asas akuntabel dan transparansi, salah satunya dengan menunjukkan dokumen perizinan pada pertemuan tersebut. Kenapa tidak ditunjukkan? Ada apa dengan perusahaan ini?” ujar Rafiq usai diwawancarai, Rabu (11/02/2026).

Ia menegaskan, aksi pemboikotan tersebut merupakan langkah rasional masyarakat dalam mempertanyakan legalitas izin operasi perusahaan.

Warga, kata dia, memiliki kekhawatiran serius terhadap potensi kerusakan lingkungan yang bisa terjadi sewaktu-waktu akibat aktivitas pertambangan.

“Jika kerusakan lingkungan itu terjadi, siapa yang bertanggung jawab? Itu yang menjadi kekhawatiran warga,” tambahnya.

Secara yuridis, Rafiq menilai para pejuang lingkungan tidak dapat dipidana maupun digugat secara perdata dengan konsep Anti-SLAPP (Strategic Lawsuit Against Public Participation), sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH).

Pasal tersebut menyatakan bahwa setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata.

Lanjut Rafiq, ketentuan itu juga ditegaskan kembali dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 10 Tahun 2024 tentang Perlindungan Hukum Terhadap Orang yang Memperjuangkan Hak atas Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat, yang memperkuat perlindungan hukum bagi individu, kelompok, maupun organisasi yang memperjuangkan isu lingkungan.

Selain itu, kata dia, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 119/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan pada 28 Agustus 2025, menegaskan perlindungan terhadap aktivis, pelapor, saksi, dan ahli agar tidak dikriminalisasi saat memperjuangkan hak atas lingkungan hidup.

Ia juga menyampaikan, dalam putusan tersebut, Mahkamah memperluas penafsiran Pasal 66 UU PPLH (sebagaimana diubah dalam UU Cipta Kerja), sehingga mencakup perlindungan terhadap “setiap orang”, termasuk korban, pelapor, saksi, ahli, dan aktivis lingkungan dari ancaman pidana maupun gugatan perdata.

Ia juga mengatakan, banyak pihak menilai langkah pelaporan terhadap warga berpotensi menimbulkan preseden kriminalisasi terhadap partisipasi masyarakat dalam pengawasan lingkungan. (*)

Berita Terkait

Ajukan Proyek Infrastruktur Strategis, Sherly Minta Dukungan Anggaran Rp2,6 Triliun dari AHY
BPC HIPMI Kabupaten/Kota Peringatan BPP, Jangan Libatkan Aktor Lama di Musdalub
Maluku Utara Jadi Sorotan Dunia, Proyek CDCSUI Fokus Jaga Keaslian Cengkih dan Pala
Dinas Perpustakaan Ternate Genjot Literasi 2026, Festival Literasi Siap Digelar
Sarbin Sehe Resmi Berangkatkan ERB 2026, Rupiah Layak Edar Hadir di Lima Pulau Terpencil
Wabup Haltim Perkuat Sinergi dengan BPVP Lombok Timur untuk Ciptakan SDM Berdaya Saing
Sultan Tidore, Semua Akan Kembali, Mari Doakan Burhan Abdurahman Husnul Khatimah
Langkah Strategis Sherly di Jakarta, Percepat Realisasi Program Infrastruktur Maluku Utara

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:27 WIT

BRI Hadirkan Kapal Teras Bahtera Seva II, Permudah Akses Layanan Perbankan di Kepulauan Maluku Utara

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:15 WIT

BRI Cabang Ternate Sosialisasikan Layanan QLola dan Pinjaman Multiguna kepada Pegawai Kejati Maluku Utara

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:21 WIT

BRI Ternate Buka Kesempatan Magang bagi Lulusan Muda melalui BRILiaN Internship Program

Minggu, 18 Oktober 2026 - 23:23 WIT

BRI dan Dinas Perikanan Halbar Salurkan Kartu KUSUKA, Dorong Pemberdayaan Pelaku Usaha Pesisir

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:46 WIT

Sekda Haltim Tekankan Empat Kunci Pengendalian Inflasi, Harga, Pasokan, Distribusi dan Komunikasi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:44 WIT

10 Kopdes Merah Putih Ternate Lolos Verifikasi, Pemkot Disiapkan Jadi Pengerak Ekonomi Kelurahan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:51 WIT

Isu Pungli KUR Nelayan di Halbar Beredar, BRI Pastikan Penyaluran Sesuai Prosedur

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:39 WIT

Sekda Ricky, Pemkab Haltim Komitmen Tekan Stunting, Insentif Disalurkan kepada 404 Penerima

Berita Terbaru