Artika Permata Sari
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMMU)
“Tulisan ini merupakan tugas pengganti Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Etika Filsafat Komunikasi yang ditugaskan oleh dosen pengampu M. Nofrizal Amir, dengan tujuan menganalisis pemikiran Marshall McLuhan dalam konteks realitas sosial dan digital manusia hari ini”.
Sejak awal, ketertarikan saya pada dunia digital tidak berangkat dari keinginan untuk menjadi teknisi atau ahli dalam ruang yang kini ramai digemari Generasi Z dan Generasi Alpha. Ketertarikan itu justru tumbuh dari rasa ingin tahu yang lebih mendasar: bagaimana sebenarnya dunia digital bekerja, dan mengapa ia begitu kuat memengaruhi cara kita hidup dan memahami realitas.
Bagaimana mungkin sesuatu yang cair seperti suara, lentur seperti gambar, dan berlapis seperti video dapat dipadatkan, dikemas, lalu meluncur dengan kecepatan luar biasa melintasi jaringan global? Dan bagaimana semua itu yang pada mulanya sekadar teknologi, kini menjelma menjadi semacam tubuh kedua, merasuk ke ritme hidup kita, menuntun arah tatapan, bahkan sering kali mengendalikan cara kita menafsirkan dunia?
Pemahaman awal saya tentang semesta digital yang lebih dalam diperoleh dari kakak saya yang berkecimpung dalam aktivitas riset digital di salah satu lembaga penelitian tertua di Indonesia, LP3ES. Dalam sebuah diskusi singkat, ia menjelaskan sejarah digitalisasi sebagai proses peralihan dari dunia analog yang kontinu, saling terhubung tanpa putus menuju dunia digital yang diskrit, terfragmentasi, dan terhitung.
Pada era analog, suara dan gambar bergerak dalam gelombang yang mulus, menyerupai aliran sungai yang mengalir tanpa jeda. Namun ketika gelombang tersebut memasuki dunia digital, ia dipotong, dipilah, dan diubah menjadi rangkaian nilai yang dapat dihitung oleh mesin. Di titik inilah saya diperkenalkan pada dua fondasi utama dunia digital: logika biner dan sistem kompresi, khususnya kompresi lossy.
Digitalisasi bersandar pada fondasi yang sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat keras: angka 0 dan 1. Inilah yang dikenal sebagai logika biner. Dalam kerangka ini, seluruh realitas seperti warna, suara, gerak, bahkan emosi yang direpresentasikan melalui tanda baca dan emoji, harus tunduk pada dikotomi ekstrem: iya/tidak, hidup/mati, ada/tiada. Logika ini juga diterapkan dalam sistem kelistrikan, misalnya pada sakelar yang hanya mengenal dua keadaan, yaitu menyala dan mati.
Masalahnya, dunia nyata tidak pernah bekerja dalam dua titik ekstrem semacam itu. Realitas pada dasarnya penuh gradasi dan spektrum. Pikiran manusia bergerak dalam wilayah abu-abu: kita bisa ragu, setengah yakin, ambigu, atau berubah-ubah. Dalam filsafat dan logika kontemporer, hal ini dikritik melalui berbagai pendekatan, salah satunya logika fuzzy.
Logika fuzzy diperkenalkan oleh Lotfi A. Zadeh melalui makalah berjudul Fuzzy Sets (1965). Zadeh berargumen bahwa dunia nyata jarang memiliki batas yang tegas. Kategori seperti “tinggi”, “panas”, atau “muda” tidak pernah memiliki garis demarkasi absolut, semuanya bergantung pada konteks dan spektrum nilai (Zadeh, 1965). Dengan demikian, logika biner yang menjadi dasar digitalisasi sesungguhnya adalah reduksi terhadap kompleksitas realitas.
Konsekuensinya jelas, setiap representasi digital selalu merupakan kompromi. Ia bukan realitas itu sendiri, melainkan versi realitas yang telah disederhanakan agar dapat diproses oleh mesin.
Fondasi kedua dunia digital adalah kompresi data, terutama kompresi lossy, yakni metode yang secara sadar membuang sebagian informasi demi efisiensi ukuran dan kecepatan transmisi. Dalam gambar digital, detail tertentu dianggap tidak penting lalu dihapus. Dalam audio, frekuensi yang sulit ditangkap telinga manusia dikorbankan. Dalam video, kualitas visual direduksi agar dapat diputar dengan lancar.
Secara teknis, kompresi tidak dimaksudkan untuk menipu. Ia hanya memastikan data dapat bergerak cepat di dalam jaringan. Namun implikasinya bersifat filosofis dan kultural: apa yang kita lihat, dengar, dan konsumsi dalam dunia digital bukanlah realitas yang utuh, melainkan serpihan-serpihan yang telah dipilih dan dipangkas.
Dalam era kompresi ekstrem seperti pada platform streaming, TikTok, dan media sosial berbasis algoritma yang hadir bukan lagi pengalaman total, melainkan realitas yang telah dipotong-potong sesuai logika kecepatan, viralitas, dan atensi singkat. Realitas digital, dengan demikian, adalah realitas yang telah terbonsai.
Refleksi ini menemukan pijakan teoritis yang kuat dalam pemikiran Marshall McLuhan. Dalam Understanding Media dan The Gutenberg Galaxy, McLuhan mengemukakan gagasan terkenal bahwa “the medium is the message”, medium itu sendiri adalah pesan (McLuhan, 1964). Artinya, dampak utama media bukan terletak pada isi pesan, melainkan pada struktur medium yang membentuk cara manusia berpikir dan berelasi.
McLuhan juga menyatakan bahwa media adalah extensions of man, perpanjangan tubuh manusia. Roda memperpanjang kaki, pakaian memperpanjang kulit, dan media elektronik memperpanjang sistem saraf manusia (McLuhan, 1964). Dalam konteks digital hari ini, layar telah menjadi organ sensoris baru—tempat kita melihat dunia, membentuk opini, dan merasakan emosi.
Jika dikaitkan dengan logika biner dan kompresi, maka kritik McLuhan menjadi semakin relevan. Digitalisasi membentuk rasionalitas baru yang cenderung reduktif: kita dibiasakan berpikir dalam dikotomi like/dislike, setuju/tidak setuju, viral/tidak viral. Medium digital tidak sekadar menyampaikan realitas, tetapi membingkai dan mengatur cara kita mengalaminya.
Lebih jauh, kompresi membentuk pengalaman yang dangkal dan serba cepat. McLuhan menyebut media modern sebagai media yang “panas”—intens, cepat, dan minim jeda reflektif. Dalam kondisi ini, yang hilang bukan sekadar data, melainkan kedalaman kesadaran.
Dari perjalanan memahami fondasi teknologi digital hingga membaca kembali pemikiran McLuhan, saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa dunia digital bekerja melalui penyempitan-penyempitan logika, realitas, dan perhatian manusia. Olehnya itu, pertanyaannya bukan lagi apakah dunia digital baik atau buruk, melainkan bagaimana manusia dapat menemukan ruang bagi logika yang lebih lembut, logika gradasi, logika keraguan, logika jeda, dan logika spektrum yang lebih menyerupai cara hidup manusia itu sendiri.
McLuhan mengingatkan bahwa setiap medium membentuk manusia. Maka tugas etis kita hari ini adalah memastikan bahwa layar sebagai tubuh kedua tidak menghilangkan tubuh pertama, tubuh yang merasakan, meraba, berpikir perlahan, dan mengalami dunia dalam kedalaman, bukan sekadar dalam versi terkompresinya. (*).













