Hilirisasi Sampah Jadi Solusi Pengelolaan Lingkungan di Kota Ternate

- Wartawan

Kamis, 23 Januari 2025 - 07:11 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ternate-Habarindonesia. Salah satu kota dengan pertumbuhan pesat di Maluku Utara, kini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, volume sampah yang dihasilkan masyarakat juga bertambah signifikan. Dalam menghadapi masalah ini, hilirisasi sampah menjadi sorotan utama sebagai solusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan, Kamis 23/01/25

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate, Syarif Tjan, menjelaskan bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di kota ini sudah hampir mencapai kapasitas maksimal. “Jika tidak ada upaya pengelolaan yang lebih inovatif, kita akan menghadapi krisis lingkungan yang serius,” ujar Syarif Tjan.

Syarif menekankan bahwa metode pengelolaan sampah yang ada selama ini, seperti membuang sampah ke TPA tanpa pengolahan lebih lanjut, tidak dapat dipertahankan. “Hilirisasi sampah adalah solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.

Setiap harinya, Kota Ternate menghasilkan sekitar 150 ton sampah, dan TPA Buku Dero-Dero yang ada saat ini hampir mencapai kapasitas maksimal. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah tangga masih sangat rendah, yang semakin memperburuk situasi.

“Hilirisasi sampah harus segera diterapkan di Kota Ternate untuk mengurangi beban TPA, meminimalkan pencemaran lingkungan, dan menciptakan nilai tambah dari sampah yang selama ini dianggap sebagai limbah,” kata Syarif tegas.

Hilirisasi sampah adalah proses pengolahan sampah dari hulu ke hilir, di mana sampah diubah menjadi produk yang bernilai guna. Salah satu contohnya adalah pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak menggunakan maggot atau kompos, serta daur ulang sampah plastik menjadi bahan baku industri.

Syarif juga menjelaskan bahwa penggunaan maggot untuk mengolah sampah organik dapat memberikan hasil yang sangat signifikan. “Maggot memiliki daya makan lima kali lebih besar dari berat tubuhnya. Jika kita beternak maggot untuk mengolah 10 ton sampah, dalam sehari sampah organik bisa berkurang 50 ton. Ini akan mengurangi biaya pengangkutan sampah ke TPA dan bahkan membuka lapangan pekerjaan baru di bidang industri sampah,” tambahnya.

Penerapan hilirisasi sampah, menurut Syarif, akan memperpanjang umur TPA karena hanya residu sampah yang tak bernilai yang akan dibuang ke TPA. Oleh karena itu, langkah-langkah tersebut perlu didukung oleh masyarakat melalui partisipasi aktif, seperti memilah sampah dari rumah tangga dan mendukung berbagai program pengelolaan sampah.

“Kolaborasi adalah kunci. Pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta harus bersinergi agar hilirisasi sampah dapat berjalan efektif,” ungkapnya.

Syarif juga mengapresiasi inisiatif-inisiatif lokal dalam pengelolaan sampah yang dilakukan oleh beberapa komunitas di Ternate. Namun, ia menekankan pentingnya memperluas dan melengkapi langkah-langkah tersebut dengan teknologi pengurangan sampah yang lebih canggih.

“Kita harus mulai dengan memperkuat program-program yang sudah ada, lalu mengintegrasikannya ke dalam sistem pengelolaan sampah yang lebih besar,” tambahnya.

Syarif optimis bahwa dengan penerapan hilirisasi sampah, Kota Ternate dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia timur. “Kita punya potensi besar untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Hilirisasi sampah adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik untuk Kota Ternate,” tutupnya.

Dengan semangat hilirisasi sampah, Kota Ternate kini memiliki harapan baru dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang semakin meningkat, sambil menciptakan peluang ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat.
(Wan)

Berita Terkait

Ajukan Proyek Infrastruktur Strategis, Sherly Minta Dukungan Anggaran Rp2,6 Triliun dari AHY
BPC HIPMI Kabupaten/Kota Peringatan BPP, Jangan Libatkan Aktor Lama di Musdalub
Maluku Utara Jadi Sorotan Dunia, Proyek CDCSUI Fokus Jaga Keaslian Cengkih dan Pala
Dinas Perpustakaan Ternate Genjot Literasi 2026, Festival Literasi Siap Digelar
Sarbin Sehe Resmi Berangkatkan ERB 2026, Rupiah Layak Edar Hadir di Lima Pulau Terpencil
Wabup Haltim Perkuat Sinergi dengan BPVP Lombok Timur untuk Ciptakan SDM Berdaya Saing
Sultan Tidore, Semua Akan Kembali, Mari Doakan Burhan Abdurahman Husnul Khatimah
Langkah Strategis Sherly di Jakarta, Percepat Realisasi Program Infrastruktur Maluku Utara
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 20:44 WIT

Pemprov Malut Pacu Pembangunan Rumah KAT di Tayawi, Identitas Budaya Suku Togutil Tetap Dijaga

Minggu, 20 September 2026 - 00:48 WIT

Pemprov Malut Evaluasi Pertumbuhan Ekonomi, Data OPD Jadi Dasar Strategi Pembangunan

Sabtu, 19 September 2026 - 11:24 WIT

Wamenaker Afriansyah Noor Tutup Pelatihan Produktivitas di Ternate, 416 Peserta Lulus Vokasi

Sabtu, 19 September 2026 - 11:06 WIT

Tata Kelola Mineral dan Ketahanan Energi Malut Dikaji, BPK RI Minta Data OPD Dipenuhi

Jumat, 18 September 2026 - 02:08 WIT

Harhubnas 2026, Sarbin Sehe, Transportasi Harus Hadir untuk Rakyat dan Gerakkan Ekonomi

Kamis, 17 September 2026 - 01:51 WIT

PAD Tumbuh Positif, Sarbin Sehe Minta Optimalisasi Pajak dan Kinerja UPT di Malut

Rabu, 16 September 2026 - 22:46 WIT

Wagub Sarbin Sehe Sampaikan Ranperda APBD-P 2026, Pendapatan Malut Naik Jadi Rp3,318 Triliun

Rabu, 16 September 2026 - 17:24 WIT

Perkim Haltim dan Unhas Reviu RP3KP, Fokus Perkuat Data dan Arah Pembangunan

Berita Terbaru