SOFIFI – HabarIndonesia.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Maluku Utara menggelar kegiatan cut off data guru tahun 2026 melalui rapat daring yang diikuti seluruh guru jenjang SMA, SMK, dan SLB se-Maluku Utara.
Dilaksanakan secara daring dari Sofifi dan diikuti oleh satuan pendidikan di sepuluh kabupaten/kota se-Maluku Utara. Senin, 02/02/26.
Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara, Abubakar Abdullah, serta dihadiri pejabat terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
Untuk mengunci dan memfinalisasi data sekolah, guru, dan tenaga kependidikan sebagai dasar perencanaan kebijakan pendidikan daerah tahun 2026.
Melalui verifikasi dan penguncian data yang telah dihimpun dari seluruh satuan pendidikan.
Dalam arahannya, Abubakar Abdullah menegaskan bahwa cut off data merupakan tahapan krusial untuk memastikan seluruh kebijakan pendidikan berbasis pada data yang valid dan terverifikasi.
“Setelah cut off ini, data tidak bisa lagi berubah. Karena itu kami minta seluruh satuan pendidikan memastikan data yang disampaikan benar-benar sesuai kondisi riil,” ujar Abubakar.
Berdasarkan data Dikbud Maluku Utara tahun 2026, jumlah satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB tercatat sebanyak 406 sekolah, yang terdiri atas 226 SMA, 151 SMK, dan 29 SLB yang tersebar di sepuluh kabupaten dan kota.
Jumlah guru pada jenjang tersebut mencapai 6.220 orang, dengan rincian 4.197 guru berstatus ASN dan 2.023 guru non-ASN. Sementara itu, tenaga kependidikan tercatat sebanyak 934 orang.
Data juga menunjukkan masih adanya ketimpangan sertifikasi pendidik. Guru yang belum memiliki sertifikat pendidik tercatat sebanyak 1.841 orang di sekolah negeri dan 1.146 orang di sekolah swasta.
Sedangkan guru yang telah bersertifikat pendidik berjumlah 2.882 orang di sekolah negeri dan 351 orang di sekolah swasta.
Dari sisi kualifikasi akademik, mayoritas guru telah berpendidikan S1, masing-masing 4.723 guru di sekolah negeri dan 1.497 guru di sekolah swasta.
Namun, kata dia, masih terdapat guru dengan kualifikasi di bawah S1 serta sebagian kecil berpendidikan di atas S1.
Selain itu, jumlah rombongan belajar (rombel) pada jenjang SMA, SMK, dan SLB di Maluku Utara tercatat sebanyak 2.679 rombel, dengan sebaran terbanyak berada di Kota Ternate, Kabupaten Halmahera Utara, dan Kabupaten Halmahera Selatan.
“Kami ingin satu data pendidikan. Dengan data yang sudah dikunci ini, intervensi pemerintah diharapkan lebih tepat sasaran dan berdampak pada peningkatan mutu layanan pendidikan,” pungkasnya.
Abubakar menegaskan bahwa hasil cut off data guru tahun 2026 ini akan menjadi rujukan tunggal Dikbud Maluku Utara dalam menyusun kebijakan pendidikan ke depan.(*)













