JAKARTA – HabarIndonesia.id – Sesi Sharing Session bertajuk Pelibatan Para Pihak – Praktik Baik Implementasi Program JISRA Eco Bhinneka Muhammadiyah di Pontianak dan Ternate menjadi ruang berbagi pengalaman tentang pembangunan kerja sama lintas iman dan pelestarian lingkungan melalui pendekatan sederhana, konsisten, dan berbasis relasi.
Kegiatan yang berlangsung dalam rangkaian Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah itu digelar pada 1 Mei 2026 di Aula Asrama Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.
Sesi tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Octavia Shinta Aryani dari Pontianak, Kalimantan Barat, dan Usman Mansur dari Ternate, Maluku Utara.
Kepala Sekolah Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah, Ahsan Jamet Hamidi, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa implementasi kerja-kerja lintas iman dan isu lingkungan sejak dimulai pada 2021 tidak selalu berjalan mudah, meskipun secara kelembagaan telah ada perhatian terhadap isu tersebut.
Menurutnya, pengalaman yang dijalani para penggerak di daerah menunjukkan pentingnya membangun komunikasi, menumbuhkan kepercayaan, dan melibatkan generasi muda secara langsung dalam setiap proses perubahan sosial.
“Dua cerita ini menunjukkan bahwa kerja bersama itu prosesnya panjang, tapi bisa berjalan kalau kita konsisten dan mau membuka diri,” ujarnya.
Ahsan menilai pengalaman di Pontianak dan Ternate menjadi contoh penting bahwa perubahan sosial dapat dibangun melalui pendekatan yang pelan, konsisten, dan berbasis relasi antarmasyarakat.
Dalam sesi tersebut, Octavia Shinta Aryani membagikan pengalamannya membangun program Eco Bhinneka Muhammadiyah di Pontianak hanya bersama satu staf, tanpa jaringan yang kuat dan tanpa pengalaman sebelumnya dalam organisasi lintas iman.
Sebagai kader Nasyiatul ‘Aisyiyah sekaligus guru sekolah dasar, Shinta memilih memulai pendekatan melalui audiensi dan membangun kedekatan personal dengan tokoh-tokoh agama.
Ia bahkan menggunakan pendekatan sederhana yang disebutnya sebagai “diplomasi kuliner” dengan mengundang tokoh agama makan bersama untuk memperkenalkan program Eco Bhinneka Muhammadiyah.
“Silaturahmi adalah kata kunci yang sangat penting. Bukan hanya saat ada kegiatan, tapi juga ketika tidak ada agenda apa pun,” kata Shinta.
Lanjutnya, Dari pertemuan kecil tersebut kemudian lahir jejaring anak muda lintas iman yang berkembang menjadi komunitas Sahabat Eco Bhinneka (SEKA).
Menurutnya, Komunitas itu menginisiasi berbagai kegiatan seperti Cycling to Religious Sites, youth camp lintas iman, podcast lingkungan, hingga kampanye lingkungan di ruang publik.
Shinta menjelaskan, pendekatan yang dibangun tidak hanya berfokus pada kegiatan formal, tetapi juga membangun rasa memiliki dan kedekatan antaranggota melalui kegiatan live in dan youth camp agar peserta dari berbagai agama dapat saling mengenal lebih dekat.
Seiring waktu kata dia, jejaring Eco Bhinneka Muhammadiyah Pontianak semakin berkembang dan mulai mendapat kepercayaan dari pemerintah daerah, sekolah, organisasi lintas agama, hingga komunitas masyarakat.
Lanjutnya, Bahkan sejumlah kader muda SEKA kini telah menjadi fasilitator dan penggerak kegiatan secara mandiri.
Sementara itu, Usman Mansur mengungkapkan bahwa perjalanan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Ternate juga dimulai dari kondisi yang penuh tantangan.
Ia mengaku pada awal program berjalan belum memahami isu keberagaman maupun hubungan antara kerukunan dan lingkungan.
“Jangankan mengerti, bingung pun tidak,” candanya yang disambut tawa peserta.
Usman menjelaskan, pelaksanaan program pada tahap awal mengalami berbagai kendala, mulai dari keterbatasan kapasitas, tantangan administrasi, hingga resistensi internal.
Selain itu lanjutnya, pendekatan kerja lintas isu antara agenda lingkungan dan kerukunan membutuhkan proses penyesuaian yang tidak singkat.
Namun secara perlahan kata dia, pendekatan dialog dan keterbukaan mulai membangun kepercayaan masyarakat.
Ia menyampaikan, Bersama tokoh agama dan komunitas anak muda lintas iman, mereka mulai menggelar aksi bersih pantai, pembagian takjil lintas agama, pengamanan perayaan Natal dan Idulfitri, hingga pendampingan desa.
“Kerusakan lingkungan berdampak ke semua orang, jadi penyelesaiannya juga harus dikerjakan bersama,” ujar Usman.
Ia juga menyoroti pengalaman konflik sosial di Maluku Utara yang membuat kerja-kerja lintas iman menjadi penting, terutama bagi generasi muda. Menurutnya, trauma dan prasangka antargenerasi perlu diputus melalui ruang perjumpaan yang sehat dan terbuka.
Dalam praktiknya kata dia, Eco Bhinneka Muhammadiyah Ternate tidak hanya membangun hubungan dengan komunitas agama, tetapi juga aktif menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan lembaga pendidikan.
Bagi dia, Pendekatan tersebut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, termasuk dukungan pemerintah kota terhadap agenda lingkungan dan kegiatan lintas komunitas.
Ia mengatakan, Sesi berbagi pengalaman itu menunjukkan bahwa membangun gerakan lintas iman tidak selalu harus dimulai dari program besar, melainkan dari relasi yang dirawat melalui silaturahmi, kehadiran, dan kerja bersama secara konsisten.
Tak hanya itu lanjut Usman, Pengalaman Pontianak dan Ternate juga memperlihatkan bahwa isu lingkungan dapat menjadi pintu masuk efektif untuk mempertemukan anak muda dari berbagai latar belakang, mencairkan sekat identitas, serta menumbuhkan rasa saling percaya di tengah keberagaman.
Menurutnya, Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah sendiri merupakan pengembangan dari pengalaman program yang telah dijalankan selama empat tahun di Ternate, Pontianak, Solo, dan Banyuwangi.
Selain itu kata dia, Program ini bertujuan membekali kader muda lintas iman agar memiliki kepekaan terhadap isu kerukunan dan lingkungan, sekaligus kemampuan merancang serta menjalankan aksi nyata di komunitas masing-masing.
Melalui akademi tersebut, Ia berharap lahir generasi muda yang tangguh, berjiwa sosial, dan mampu menjadi agen perubahan dalam memperkuat keberlanjutan lingkungan serta kerukunan antarumat beragama di Indonesia.
(Red)
















