Berita  

Aminudin Aziz Tegas, Literasi Bukan Tugas Perpustakaan Saja, Seluruh Pemda Harus Bergerak

TERNATE – HabarIndonesia.id –
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz, secara resmi mengukuhkan Bunda Literasi Provinsi serta Bunda Literasi kabupaten/kota se-Maluku Utara dalam kegiatan Rapat Konsultasi (Rakon) yang berlangsung di Ballroom Bella Hotel, Kelurahan Jati, Ternate, Senin (11/5/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, para Ketua TP-PKK, Bunda Literasi kabupaten/kota, serta sejumlah pejabat daerah.

Pada kesempatan itu, Aminudin Aziz juga menyerahkan buku karya pribadinya kepada Wakil Gubernur Sarbin Sehe sebagai simbol dukungan terhadap penguatan budaya literasi di daerah.

Dalam materinya, Aminudin Aziz memaparkan daftar negara dengan durasi membaca buku tertinggi di dunia.

“Amerika Serikat menempati posisi pertama dengan rata-rata waktu membaca 357 jam per tahun, disusul India dengan 353 jam, dan Britania Raya dengan 343 jam,” ujarnya.

Lanjutnya, rancis mencatat 305 jam membaca per tahun, Italia 278 jam, Kanada 232 jam, Rusia 223 jam, Australia 217 jam, Spanyol 187 jam, dan Belanda berada di peringkat ke-10 dengan 182 jam membaca per tahun.

Sementara itu kata , Indonesia berada di peringkat ke-31 dunia dengan rata-rata waktu membaca sebesar 129 jam per tahun.

Menurutnya, Data tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca di Indonesia masih perlu terus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan negara-negara lain yang memiliki tingkat literasi lebih tinggi.

Ia juga menyampaikan, kawasan ASEAN, Indonesia menempati peringkat ketiga tingkat kegemaran membaca setelah Singapura dan Thailand.

Posisi tersebut dinilai cukup baik, namun tetap memerlukan upaya serius agar budaya membaca semakin mengakar di tengah masyarakat.

Aminudin juga memaparkan data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Maluku Utara tahun 2025 yang mencapai 10,99.

Ia memaparkan nilai Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) kabupaten/kota di Maluku Utara tahun 2025. Kabupaten Halmahera Barat mencatat nilai 1,36, Halmahera Tengah 2,73, Halmahera Utara 1,68, Halmahera Selatan 2,20, sementara Kabupaten Halmahera Timur belum memiliki data.

Selanjutnya, Kabupaten Kepulauan Sula memperoleh nilai 12,04, Pulau Morotai 10,77, Pulau Taliabu 10,33, Kota Ternate 8,12, dan Kota Tidore Kepulauan mencatat nilai tertinggi sebesar 13,89.

“minat membaca masyarakat Maluku Utara saat ini berada pada angka 60,66. Nilai tersebut masih berada pada kategori C dan harus terus ditingkatkan,” pungkasnya.

Ia mengidentifikasi tiga persoalan utama yang menyebabkan rendahnya capaian literasi di daerah.

Pertama, kualitas data yang disampaikan oleh dinas perpustakaan dan sektor pendidikan masih rendah. Kedua, koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) belum optimal. Ketiga, sinergi program lintas sektor belum berjalan maksimal.

“Peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat bukan hanya tugas Dinas Perpustakaan, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh pemerintah daerah. Literasi adalah program bersama, bukan program sektoral,” tegasnya.

Aminudin juga memaparkan berbagai bantuan yang telah disalurkan Perpusnas kepada Maluku Utara selama periode 2019–2025.

Bantuan tersebut menurutnya, meliputi tiga unit motor perpustakaan keliling, 20 unit mobil perpustakaan, enam unit pojok baca digital, 231 lokus bantuan bahan bacaan bermutu, serta lima lokus program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

Selain itu lanjutnta, perpusnas juga mendukung berbagai program melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik, seperti Festival Literasi, Lomba Bertutur, Membaca Nyaring, Bimbingan Teknis, pelatihan kepenulisan berbasis budaya lokal, dan lomba resensi buku.

Ia juga mengatakan, untuk penguatan perpustakaan desa dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Perpusnas memberikan bantuan kepada 10.000 perpustakaan desa dan TBM di seluruh Indonesia.

“Setiap lokus menerima 1.000 judul buku, satu rak buku, serta bimbingan teknis peningkatan kapasitas pengelola perpustakaan,” ucapnya.

Aminudin menambahkan, perpusnas juga terus memperkuat kolaborasi dengan Relawan Literasi Masyarakat (Relima).

“Jumlah Relima di Maluku Utara pada 2025 tercatat sebanyak 180 orang dan ditargetkan meningkat menjadi 360 orang pada 2026,” tutupnya.

Melalui pengukuhan Bunda Literasi dan rapat konsultasi ini, ia mengharapkan, terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, TP-PKK, perpustakaan, dan masyarakat dalam mendorong budaya baca serta meningkatkan kualitas literasi di Maluku Utara.

(Agis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *