HALTIM — HabarIndonesia.id – Dugaan praktik manipulasi takaran Bahan Bakar Minyak (BBM) mencuat di SPBU Wayamli, Kecamatan Maba Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.
Sejumlah pengecer mengaku telah dirugikan selama berbulan-bulan akibat selisih volume BBM yang tidak sesuai dengan jumlah pembelian.
Para pengecer menyebut, praktik ini bukan hal baru. Mereka mengklaim kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar delapan bulan tanpa ada perbaikan berarti.
Mereka juga menyampaikan, setiap pembelian 25 liter, BBM yang diterima disebut hanya berkisar antara 23 hingga 24 liter.
“Kalau kami beli 25 liter, yang kami terima sering kali tidak sampai. Kadang cuma 24 liter. Tapi kami tetap bayar penuh. Ini jelas merugikan,” ungkap salah satu pengecer.
Lanjutnya, Kondisi ini dinilai meresahkan dan berdampak langsung pada usaha kecil di tingkat pengecer.
Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur, khususnya Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindakop), segera turun tangan melakukan inspeksi langsung serta evaluasi menyeluruh terhadap manajemen SPBU tersebut.
Ia menyampaikan, para pengecer juga menyoroti pola pengawasan pemerintah yang dianggap belum merata.
Menurutnya, Inspeksi yang dilakukan sebelumnya dinilai lebih terfokus pada SPBU di pusat kota Maba, sementara SPBU di wilayah kecamatan seperti Wayamli justru luput dari pengawasan intensif.
“SPBU di kota lebih mudah diawasi karena dekat. Tapi di kecamatan seperti ini jarang disentuh. Padahal potensi pelanggaran lebih besar karena akses jauh,” tambahnya.
Di sisi lain kata dia , pihak pengelola SPBU Wayamli tidak sepenuhnya membantah adanya persoalan takaran. Pengelola SPBU, Idris, mengakui terjadi gangguan pada mesin dispenser yang berdampak pada ketidakakuratan volume BBM.
“Memang ada masalah. Bukan hanya kurang, kadang juga bisa lebih. Ini karena kami terpaksa menggunakan cara manual setelah mesin dispenser rusak akibat listrik yang tidak stabil,” jelas Idris saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (03/05/2026).
Ia menambahkan, pihaknya telah mengupayakan perbaikan, namun hingga kini masih menunggu kedatangan teknisi dari Jakarta.
Menurutnya, Kasus ini membuka celah serius dalam pengawasan distribusi BBM di wilayah terpencil. Jika tidak segera ditangani, bukan hanya pengecer yang dirugikan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap layanan SPBU bisa terus terkikis.
(Dzarik)
















