Berita  

Tarawih Pertama Terhenti di Rendam Banjir, Masyarakat Tafraka Desak Evaluasi Total Proyek Embung

TERNATE – HabarIndonesia.id – Masyarakat Kelurahan Tafraka, Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate, kembali dilanda banjir pada Rabu (18/02/26) malam.

Banjir yang terjadi bertepatan dengan malam pertama bulan suci Ramadhan itu menyebabkan warga tidak dapat melaksanakan sholat tarawih secara berjamaah.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kejadian serupa yang sebelumnya telah berulang kali terjadi setiap kali hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.

Warga pun menilai persoalan ini tidak lagi bisa dianggap sebagai kejadian biasa, melainkan masalah serius yang membutuhkan penanganan menyeluruh.

Banjir merendam permukiman warga di Kelurahan Tafraka setelah hujan deras mengguyur wilayah Pulau Hiri pada Rabu malam.

Air meluap dan menggenangi rumah-rumah warga serta akses jalan, sehingga aktivitas masyarakat terganggu, termasuk pelaksanaan ibadah tarawih pertama Ramadhan.

Seluruh masyarakat Kelurahan Tafraka terdampak banjir tersebut. Warga mengaku mengalami ketakutan dan trauma setiap kali hujan deras turun karena khawatir banjir kembali terjadi.

Salah satu pemuda Kelurahan Tafraka, Iswan Adjiji atau biasa di sapa (Nan), saat ditemui menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi yang terus berulang.

“Kami butuh BWS harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Ulah proyek tersebut hingga menyebabkan banjir berulang kali. Kami butuh tanggung jawab dan harus selesaikan persoalan yang terjadi,” ujarnya.

Lanjutnya, Peristiwa banjir terjadi di Kelurahan Tafraka, Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate, pada Rabu malam, 18 Februari 2026, bertepatan dengan malam pertama Ramadhan 1447 Hijriah.

Ia juga mengatakan, warga menduga banjir berkaitan dengan proyek pembangunan embung yang dikerjakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) di Pulau Hiri.

Mereka menilai proyek tersebut perlu dievaluasi secara total karena diduga menjadi salah satu faktor penyebab banjir berulang.

Menurut Nan, sebelumnya pihak BWS bersama aparat dari kepolisian telah turun meninjau lokasi dan berjanji akan melakukan perbaikan agar tidak terjadi banjir susulan.

“Beberapa minggu lalu, kami masyarakat dengan Polres serta dari BWS sudah datang cek dan berjanji akan mengerjakan persoalan yang ada agar tidak terjadi lagi banjir susulan,” kata Nan.

Namun, kata dia warga menilai janji tersebut belum terealisasi secara maksimal, terbukti dengan kembali terjadinya banjir pada malam ini.

Selain merendam permukiman, Nan menyampaikan, banjir menimbulkan keresahan mendalam di tengah masyarakat.

Bahkan, kata dia warga mengaku kini merasa cemas setiap kali hujan turun deras. sebagian masyarakat menilai hujan bukan lagi dianggap sebagai rahmat, melainkan sumber kekhawatiran akan datangnya bencana.

Ia juga mengatakan, Kondisi ini dinilai mencerminkan adanya jarak antara pemerintah dan masyarakat, apabila persoalan yang terus berulang tersebut tidak segera ditangani secara serius.

Lanjut Nan, Masyarakat Tafraka mendesak agar Balai Wilayah Sungai segera mengambil langkah konkret dan melakukan evaluasi total terhadap proyek embung yang dibangun di Pulau Hiri.

Mereka berharap ada solusi permanen agar risiko banjir tidak semakin parah di masa mendatang.

Ia mengigatkan, pemerintah dan pihak terkait tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi benar-benar memastikan penyelesaian yang tuntas.

“Jangan setiap bencana melanda masyarakat baru turun dan hanya membuat telinga masyarakat senang. Kami ingin solusi nyata,” tegasnya.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *