TERNATE, HabarIndonesia.id — Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat komitmennya untuk menghadirkan layanan pendidikan yang merata dan berkualitas di Provinsi Maluku Utara.
Langkah strategis ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Pendidikan Tahun 2026 yang berlangsung di Gamalama Ballroom, Bela Hotel, Ternate, pada Rabu malam (23/9/2026).
Acara penting ini dihadiri langsung oleh Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, Direktur SMA Kemendikdasmen, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Kepala BPMP Malut, Kepala BGP (Balai Guru Penggerak) Malut, Kepala Balai Bahasa Malut, jajaran pimpinan OPD terkait, para kepala cabang Dinas Pendidikan kabupaten/kota, serta ratusan tenaga pendidik dari berbagai wilayah di Provinsi Maluku Utara.
Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Kemendikdasmen, Tatang Mutaqin, menyampaikan bahwa hakikat pendidikan bukan sekadar membangun fasilitas fisik.
“Pendidikan bukan hanya membangun gedung atau menyediakan alat, melainkan bagaimana memastikan anak-anak kita bisa menuntaskan pendidikan, bertransisi ke dunia kerja, perguruan tinggi, maupun dunia usaha. Hal ini sejalan dengan semangat Asta Cita dan moto (tagline) Kemendikdasmen, yaitu memastikan pendidikan bermutu untuk semua,” ujar Tatang Mutaqin.
Ia berharap layanan pendidikan di seluruh tanah air, khususnya di Maluku Utara, dapat berjalan dengan semakin baik, merata, dan dapat diakses oleh seluruh anak tanpa kecuali.
Setelah melakukan kunjungan ke beberapa sekolah di Ternate, Tatang menyoroti pentingnya pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai miniatur industri melalui program Teaching Factory .
Ia mendorong agar SMK di masa depan mampu mengelola dana secara mandiri melalui pola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Selain itu, revitalisasi sekolah dinilai menjadi motor penggerak ekonomi yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Tatang juga memaparkan lima program prioritas pengembangan SMK yang menjadi amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah:
1. Link and Match secara dinamis: mengharuskan setiap SMK memiliki mitra industri nyata, tanpa harus terpaku pada skala industri besar.
2. SMK 4 tahun: program khusus untuk menjawab kebutuhan 500 ribu lulusan yang diproyeksikan bekerja di luar negeri. Penambahan masa studi ini bertujuan mematangkan kemampuan bahasa dan memenuhi syarat usia kerja internasional (minimal 18 tahun).
3. SMK Go Global : program yang memastikan lulusan SMK siap bersaing di pasar kerja internasional. Hingga saat ini, Dirjen Dikmen Diksus telah mengirimkan sekitar 12 ribu lulusan SMK dan lembaga kursus/pelatihan ke berbagai belahan dunia.
4. SMK berbasis kewilayahan: pengembangan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan potensi lokal daerah. Untuk Maluku Utara, fokus utama diarahkan pada sektor perikanan, pariwisata, dan pertambangan.
5. SMK tailor-made dengan industri: pembangunan SMK yang kurikulumnya dirancang khusus sesuai dengan kebutuhan industri kawasan tertentu, seperti yang telah berjalan di Cikarang, Metland, dan menyusul di Banten.
Bagi jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), Dirjen Dikmen Diksus memberikan tantangan besar kepada para guru untuk meningkatkan budaya literasi siswa. Para pendidik didorong memotivasi siswa agar gemar membaca teks yang panjang dan mampu menyimpulkannya dengan cepat.
Langkah ini dinilai krusial untuk meningkatkan kemampuan penyerapan informasi sekaligus mendongkrak nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa.
Di akhir arahannya, Tatang Mutaqin menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak dapat berjalan sendiri. Keberhasilan transformasi pendidikan di Maluku Utara sangat bergantung pada sinergi dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, orang tua siswa, serta elemen masyarakat.
(Gus)






