MATARAM, HabarIndonesia.id – Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., tidak mengawali kuliah umumnya dengan definisi tentang neurosains. Hadir akdemisi, wakil rektor dan para dekan serta ratusan mahasiswa Unram memadati aula di Lantai 3, Universitas Mataram. Kamis, (8/10/2027).
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI itu, justru membawa mahasiswa menengok jauh ke belakang ke sebuah masa ketika dirinya masih berada di bangku kuliah dan Indonesia sedang memasuki salah satu persimpangan paling menentukan dalam sejarahnya.
Taruna bercerita, ketika menjadi mahasiswa, ia tidak mendapatkan ruang kuliah khusus tentang sosial-politik. Namun, dunia di luar ruang kelas memberinya pelajaran yang jauh lebih konkret.
Ia belajar dari organisasi, diskusi, dinamika masyarakat, dan pengalaman berhadapan dengan sebuah bangsa yang sedang menghadapi ketidakpastian.
Pada periode 1997–1999, Taruna dipercaya menjadi salah satu Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Pada masa itulah ia berada di tengah pergulatan mahasiswa dan masyarakat ketika Indonesia bergerak menuju Reformasi.
21 Mei 1998 menjadi salah satu titik paling menentukan. Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan setelah lebih dari tiga dekade berkuasa.
Bagi Taruna, Reformasi bukan hanya peristiwa politik yang tercatat dalam buku sejarah. Ia merupakan pengalaman hidup yang membentuk cara pandangnya mengenai kepemimpinan.
Dari masa itu, ia belajar bahwa kepemimpinan sering kali ditempa bukan ketika keadaan tenang, melainkan ketika seseorang harus berhadapan dengan ketidakpastian.
“Seorang pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya sebelum mencoba mengendalikan keadaan. Ia harus membaca situasi sebelum mengambil keputusan dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut ketika orang lain mungkin hanya melihat satu sisi,” ujar Taruna Ikrar.
Dua puluh delapan tahun kemudian, pengalaman itu menemukan relevansinya dalam tema yang jauh berbeda: neurosains.
Di hadapan mahasiswa Universitas Mataram, Taruna membawa gagasan tentang neuroleadership kepemimpinan yang menggunakan pemahaman mengenai otak, sistem saraf, kesadaran, emosi, dan perilaku manusia sebagai salah satu fondasi dalam membangun kualitas kepemimpinan.
Di titik itulah perjalanan Taruna menjadi menarik. Pengalaman Reformasi 1998 dan neurosains berada di dua zaman yang berbeda. Namun keduanya bertemu pada satu persoalan yang sama: bagaimana manusia mengambil keputusan ketika dunia berada dalam ketidakpastian.
“Dunia yang dihadapi mahasiswa hari ini bahkan bergerak jauh lebih cepat. Perubahan demografi global, urbanisasi, pergeseran geoekonomi, perubahan perdagangan dan keuangan internasional, persaingan sumber daya alam, perubahan iklim, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, hingga dinamika geopolitik menjadi bagian dari megatren yang akan menentukan dunia menuju 2045,” kata Taruna.
Karena itu, menurut kerangka yang dibawa Taruna, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual. Mereka harus mampu mengelola emosi, memahami manusia lain, menjaga kesadaran diri, berpikir logis, mengambil keputusan, mengelola risiko, dan beradaptasi terhadap perubahan.
“Di sinilah neuroleadership memperoleh konteksnya. Otak menjadi pusat pengambilan keputusan. Karakter menentukan bagaimana keputusan itu digunakan. Sementara lingkungan sosial dan organisasi menentukan seberapa besar keputusan tersebut dapat menghasilkan dampak,” ujar Taruna Ikrar.
Taruna menempatkan self-regulation, mindfulness, empathy-based leadership, dan decision based on logic sebagai bagian penting dalam membangun karakter kepemimpinan.
“Pemimpin, dalam perspektif tersebut, bukan hanya orang yang mampu memberikan instruksi. Pemimpin adalah orang yang mampu mengelola dirinya, memahami orang lain, kemudian menggerakkan berbagai kekuatan menuju tujuan bersama,” ucap Taruna.
Kepemimpinan dengan demikian tidak berhenti pada figur. Ia harus menghasilkan sistem. Sistem yang mampu belajar, beradaptasi, membaca perubahan, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan serta data ilmiah tanpa kehilangan dimensi kemanusiaan.
Ketika Otak, Karakter, dan Teknologi Bertemu
Gagasan tersebut kemudian dibawa Taruna ke lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, transformasi menuju world-class university membutuhkan growth mindset sebagai salah satu fondasi utama.
“Mahasiswa dan sivitas akademika harus memiliki keyakinan bahwa kemampuan manusia dapat terus berkembang. Kegagalan tidak dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran,” jelasnya.
Dalam kerangka itu, optimalisasi fungsi otak sadar, pengembangan pola pikir bertumbuh, serta karakter pemimpin yang tenang, tangguh dan mampu bangkit dari kegagalan menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kualitas akademik yang lebih tinggi.
Universitas kelas dunia bukan hanya universitas dengan gedung megah atau reputasi akademik. Ia adalah ekosistem yang mampu melahirkan manusia kelas dunia.
“Manusia yang menghasilkan riset berdampak tinggi, membangun reputasi global, menciptakan jejaring internasional, menghasilkan inovasi, sekaligus melahirkan lulusan yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat,” kata Taruna Ikrar.
Dari sinilah Taruna memperkenalkan pentingnya sinergi ABG (Academia, Business, Government). Akademia menjadi pendorong ilmu pengetahuan, inovasi dan pencetak talenta unggul. Dunia usaha menjadi ruang penerapan inovasi sekaligus bagian dari ekosistem kepatuhan dan pembangunan. Pemerintah menghadirkan kebijakan, regulasi, dukungan, dan kolaborasi lintas sektor.
Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri. Bagi BPOM, pendekatan semacam itu merupakan kebutuhan nyata. Pengawasan obat dan makanan membutuhkan keterhubungan antara ilmu pengetahuan, pemerintah, dunia usaha, teknologi dan masyarakat.
Karena itu, kepemimpinan masa depan membutuhkan kemampuan untuk menghubungkan berbagai sumber kecerdasan.
Pemimpin bukan lagi hanya seorang pengambil keputusan. Ia adalah orkestrator. Dalam materi Neuroleadership & Good Leadership Practice, Taruna menempatkan tiga dimensi kecerdasan manusia, IQ, EQ, dan SQ untuk berjalan bersama teknologi dan pengetahuan kelembagaan.
Tujuannya bukan membangun organisasi yang bergantung kepada satu figur, melainkan organisasi yang mampu berpikir, belajar, beradaptasi dan memecahkan persoalan secara kolektif.
“Di sinilah terdapat perubahan mendasar dalam cara melihat kepemimpinan. Kepemimpinan bukan mengenai seberapa kuat seseorang mengendalikan organisasi. Kepemimpinan adalah tentang seberapa kuat seorang pemimpin membangun organisasi yang mampu berpikir. Organisasi seperti itu tidak menunggu persoalan datang,” ujar Taruna.
Ia membaca sinyal perubahan. Ia mengantisipasi masa depan. Ia belajar sebelum terlambat. Dan ketika harus mengambil keputusan, ia mampu mempertemukan data ilmiah, logika, pengalaman, kecerdasan emosional dan pertimbangan kemanusiaan.
Pesan tersebut menjadi penting bagi mahasiswa Universitas Mataram yang akan memasuki dunia ketika perubahan terjadi jauh lebih cepat daripada masa sebelumnya.
Taruna sendiri pernah berada di posisi yang sama. Dulu, ia adalah mahasiswa dan aktivis yang belajar kepemimpinan ketika Indonesia sedang bergerak dari Orde Baru menuju Reformasi.
Kini, lebih dari dua dekade kemudian, ia berdiri di hadapan generasi mahasiswa yang menghadapi jenis ketidakpastian berbeda: kecerdasan buatan, perubahan geopolitik, krisis iklim, transformasi ekonomi, persaingan sumber daya manusia, dan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Jenis krisisnya berubah. ertanyaannya tetap sama. Bagaimana manusia tetap mampu berpikir jernih, mengendalikan diri, memahami orang lain, dan mengambil keputusan ketika keadaan berubah dengan cepat?
Di situlah pengalaman masa lalu bertemu dengan ilmu pengetahuan masa kini. Reformasi 1998 mengajarkan Taruna tentang keberanian mengambil sikap di tengah perubahan. Neurosains memberinya perspektif tentang bagaimana manusia mengelola pikiran, emosi, kesadaran dan keputusan. Dan mahasiswa adalah generasi yang akan menentukan ke mana perubahan itu diarahkan.
Pada akhirnya, gagasan Taruna tentang neuroleadership bermuara pada satu hal: membangun pemimpin yang adaptif, rasional, humanis, dan mampu mengorkestrasi berbagai kecerdasan untuk menghadapi tantangan masa depan.
“Sebab dunia tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas. Dunia membutuhkan manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk mengambil keputusan yang tepat, mengelola perbedaan, membangun kolaborasi, dan menciptakan dampak bagi masyarakat,” kata Taruna.
Dari seorang aktivis mahasiswa yang ditempa Reformasi 1998, Taruna kini berbicara kepada generasi yang akan menentukan wajah Indonesia setelah 2045.
Sejarah telah memberinya pengalaman menghadapi perubahan. Neurosains memberinya cara untuk membaca manusia. Dan mahasiswa adalah generasi yang akan menentukan ke mana perubahan itu diarahkan.
Di antara masa lalu yang pernah bergolak dan masa depan yang belum sepenuhnya terbaca, kepemimpinan akhirnya kembali pada satu kemampuan paling mendasar: kemampuan manusia untuk memahami dirinya sendiri sebelum memimpin dunia di sekelilingnya.
(Is)






